Laman

Cari Blog Ini

Sabtu, 04 Juni 2011

Lima Perusak Hati

Lima Perusak Hati 


        Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib.
Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, 'bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.' 

1.                      1. Bergaul dengan banyak kalangan 

       Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.
Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).
"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).
Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat.
Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah. 

2.                          2.  Larut dalam angan-angan kosong 

          Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah.
Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangan-kan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melim-pah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka.
Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi n memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan. 

3.                        3. Bergantung kepada selain Allah 

          Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah.
Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)
"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)
Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh.
Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)
Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong. 

4.                   4. Kekenyangan Dalam Makanan 

      Makanan perusak ada dua macam.
      Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.
Kedua , merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan:

"Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani). 

5.                   5. Banyak tidur

       Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.
Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.
Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.
Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam . 

(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah/Abu Okasha Ainul Haris)

Selasa, 17 Mei 2011

Mahir Dalam Berdialog


                Dialog (hiwaar) adalah sebuah ungkapan yang nyaman dan menyejukkan. Ia menunjukkan sebuah upaya untuk mencari kesepahaman, kesepakatan, dan kesetaraan. Allah swt. Menyinggung masalah dialog ini dalam firman-Nya:


Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?(QS. Al Kahfi: 37).
                Dizaman sekarang, dimana kita hidup, ketermpilan untuk untuk berdialog menjadi sangat penting untuk dapat saling memahami, bertukar pikiran, dan berpendapat dalam rangka mencari sebuah kebenaran. Tujuan utama dari dialog adalah menyampaikan kebenaran melalui sebuah pendekatan personal yang lebih lembut dan lebih bijaksana. Apalagi telah lumrah ditengah manusia, bahwa keselisih pahaman atau perbedaan pendapat adalah suatu yang lazim, Allah swt. Berfirman:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.(QS. Huud: 118-119).
                Sebagian mufassir berpendapat, bahwa kalimatdan untuk itulah diatas tidak menunjukkan arti sebab musabbabAllah tidak menciptakan manusia karna mereka selalu berselisih pendapat, melainkan bahwa perselisihan itu merupakan bbagian dari proses yang terjadi setelah penciptaan. Dengan demikian, artinya adalah: maka merekapun berselisih. Atas dasar itu, kita harus mengetahui bahwa perbedaan pendapat memang sesuatu yang tidak bisa dihindari ditengah-tengah ummat ini. Sedang perbedaan pendapat itu ada dua bentuk, yakni:
1.       Perbedaan pendapat yang mengarah pada keberagaman, yakni dalam islam disebut perbedaan pendapat dalam masalah furuiyyah(cabang).
2.       Perbedaan pendapat yang menggarah pada pertentangan dan permusuhan, dan ini adalah suatu hal yang dibenci dan mereka inilah, umumnya yang menentang pokok-pokok agama yang sudah qathi. Allah swt. Berfiman:
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,(QS. Ali Imran: 105).
                Jadi perlu dicatat, bahwa kebenaran islam itu sudah jelas dan nyata, ia laksanakan matahari dan tidak dapat diperselisihlkan lagi. Dan barangsiapa yang memperselisihkannya, berarti ia adalah orang yang dungu lagi bodoh. Maka jangan engkau sia-siakan waktumu hanya untuk berdialog dengannya!!! Selain itu, hanya berdialoglah tentang permasalahan-permasalahan yang bermutu dan bermanfaat saja!!!
                Dari ini semua, sangat menjadi suatu yang sangat penting untuk menjadi seorang yang memiliki kemampuan berdialog yang lebih baik, agar kita tidak dibenturkan oleh masalah yang sebenarnya dapat kitta selesaikan cukup dengan dialog ringan. Selain itu ada beberapa etika-etika yang mesti kita perhatikan dan strategi dalam  melakukan sebuah dialog, yakni:
1.       Ikhlas
Hendaknya kedua belah pihak melepaskan terlebih dahulu sifat fanatisme mereka masing-masing, dikarnakan orang yang terlalu fanatic terhadap kelompoknya, atau pendapatnya, maka ia tidak akan menerima pendapat orang lain. Selain itu dlam dialog mestinya kita hanyalah bertujuan untuk mencari kebenaran, dan inilah keikhlasan yang kita inginkan dalam suatu dialog. Imam asy-syafii pernah berkata:aku tidak pernah membantah pendapat orang lain kecuuali karna aku ingin agar Allah memperlihatkan alas an yang benar dari mulutnya.
2.       Mengetengahkan Dalil Yang Kuat
Harus diperhatikan pula,bahwa kuatnya sebuah dalil dan argumentasi bukan ditandai dengan suara yang meninggi dan sikap yang kasar, karna bagaimanapun manusia bukanlah kerbau, dia memiliki kehormatan dan fitrah yang siap menerima kebenaran. Dengan dalil yang jelas, seseorang dapat mempertahankan dan memperkuat pendapatnya. Dalam hal ini, dalil dapat dikategorikan menjadi dua macam: dalil aqli(logika) yang kuat dan dalil naqli(Al Quran dan Hadits) yang benar. Dalam mengetengahkan  dalil inipun, seorang pendialog harus bisa menunjukkan letak keabsahan dalil yang digunakan.
3.       Hidari Kontradiksi

Dikala kita berdialog, berusahalah janganlah sampai melontarkan ucapan-ucapan yang mengandung kontradiksi(yang saling bertentangan). Karna, ada sebagian manusia yang karna keterbatasan wawasannya atau karna dorongan nafsunya, sering melontarkan beberapa ucapan atau logika yang sengaja menimbulkan hal-hal agar terjadi perselisihan diantara manusia, tapi sebaliknya hal yang pertama yang harus kita cari adalah bagaimana kita membicarakan hal-hal yang mengandung persamaan diantara kita dengan teman dialog kita. Contoh orang yang demikian telah Allah sebutkan dalam firman-Nya:

Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".(QS. Al Qomar:2).

4.       Dugaan Bukanlah Dalil
Sering kita temui orang-orang yang acapkali menjadikan dugaannya sebagai argument atau dalil. Padahal ini tidaklah dapat diterima, dikarnakan suatu dugaan masih menjadi suatu hal yang masih memerlukan pembuktian, yang masih belum tentu kebenarannya. Ironisnya, kadang pradugaan mereka, mereka anggap adalah suatu argument yang kuat, sementara praduga orang lain tidaklah demikian. Mereka menjadikan aturan hanya untuk orang lain. Tapi syarat suatu yang baru bisa disebut dalil adalah kebenaran, dan hal-hal yang tidak bertentangan dengan otak yang jernih lagi diberi hidayah. Allahu alam.
5.       Teman Dialog Yang Sebanding
Jangan sekali-kali berdialog dengan orang yang bodoh, bebal, dan keras kepala. Karna dampak negative yang ditimbulakn akan lebih besar dibanding manfaatnya, baik itu bagi diri sendiri, dirinya, dan bagi kaum muslimin secara umum. Tapi mereka yang pantas untuk diajak untuk berdialog adalah mereka yang berilmu, memiliki kesucian hati, dan berniat mencari kebenaran. Ketahuilah, mendatangi orang yang bodoh dan mengajaknaya untuk berdialog, maka itu sama halnya dengan merendahkan harga diri dan kehormatan anda sendiri dihadapannya.
6.       Mengakui Dan Menerima Hasil-Hasil Dialog
Dalam sesi dialog, bila telah tercapai hasil dan kesepakatan dalam beberapa hal, hendaknya masing-masing pihak yang terlibat dalam dialog harus menerima  kesepakatan tersebut dengan ikhlas dan lapang dada. Dengan kata lain, bagi yang pendapatnya kurang kuat  harus lapang dada dalam menerima kuatnya pendapat dan dalil lawannya. Dan ini merupakan salah satu cari mencari kebenaran. Atas dasar itu hendaknya masing-masing pihak harus bisa berkata:bila aku yang benar dan angkau melihat kebenaran itu, maka engkau harus mengikutinya!!! Sebaliknya, bila engkau yang benar dan aku melihat kebenaran itu, maka aku akan mengikutimu      .
7.       Berdialog Dengan Ramah Dan Ramah
 Ini adalah salah satu etika dari berdialog yang mesti kita ketahui dan selalu senantiasa kita pelihara. Dalam kitabnya ihyaa ulumuddin, imam Al Ghazali mengingatkan:kalian hanya mengajaknya berdialog, maka jangan sekali-kali menyinggung masalah pribadinya, nasabnya , kedudukannya, ataupun akhlaknya. Tetaplah berada dalam kerangka masalah yang diperdebatkan. Pada sisi lain, anda juga harus mengabaikan semua ucapan lawan dialognya yang tak ada sangkut pautnya dengan pokok pembicaraan dan yang lebih baik, lakukanlah dialog dengan cara-cara yang baik, santun, dan penuh keramahan serta kelembutan. Allah swt. Berfirman:


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An Nahl: 125).
8.       Berbagi Waktu Bicara Dengan Adil
Ada baiknya , sebelum dialog dimulai kita mengadakan kesepakatan dengan teman dialog tentang masalah waktu bicara. Hal ini perlu dilakukan, karna ada sebagian orang yang berlaku dzolim dan curang, terus berbicara dan tidak memberikan pada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya dan ketika teman dialognya berbicara, ia menyanggah dan menyela. Dalam dialog, islam telah mengajarkan bahwa kita harus mendengarkan pendapat teman dialog sebagaimana ia mendengarkan pendapat kita. Adab seperti inilah yang telah dipraktekkan oleh ulama  islam yang terdahulu.
9.       Mendengar Dan Menyimak Pendapat Teman Dialog
Bila anda berharap teman dialog kita menyimak dan mendengar  pendapat kita dengan baik, maka kita pun harus berlaku demikian pula terhadapnya. Ini adalah termasuk akhlak yang mulia dan teman dialog pun akan merasa dipehitungkan dan dihargai. Sebaliknya, saat berdialog hendaknya seorang menghindari yang dinamakan bercanda, celetukan, dan lelucon yang tak berguna. Sebab hal itu terkadang dianggap sebagai penghinaan terhadap teman dialog dan menimbulkan kesan bahwa kita tidak serius untuk sampai pada kebenaran. Maka tetaplah berdialog dengan hati yang jernih, pandangan mata yang teduh, agar ia tahu bahwa kita menghormatinya dan kita senantiasa berdialog dalam rangka mencari kebenaran.
10.    Menentukan Tempat Yang Layak Untuk Berdialog
Ada baiknya, jika dialog itu diadakan dalam sebuah pertemuan terbatas yang dihadiri oleh sejumlah ulama dan pakar dalam hal yang menjadi materi dialog. Sebauh kondisi yang menimbulkan ketenangan dan kenyamanan bagi para peserta dialog, sehingga perasaan menjadi tenang, dan dengan ketenangan itu diharapkan memudahkan seseorang untuk berfikir lebih baik dan benar serta tidak merasakan tekanan didalamnya.  Bukan ditempat umum dan dihadiri banyak orang. Sebab kondisi ini sangat memungkinkan timbulnya kerusuhan yang berujung pada kerusuhan. Tentunya ini adalah hal yang tidak terpuji.

Demikianlah beberapa etika-etika yang mesti kita perhatikan dalam berdialog demi tercapainya suatu yang kita inginkan dan meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan. Sebenarnya, dengan dialog, kita bisa mengarahkan orang kepada hidayah Allah. Sabab tujuan dari dialog kita ada;ah agar orang-orang mendapay hidayah dari Allah dan kembali pada jalan Tuhannya. Sekali lagi, dialog merupakan salah satu cara yang diridhai oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran. Aallah swt, Berfirman:

Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".(QS Ali Imran: 64).
                Kami memohon kepada Allah agar memperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai suatu yang benar, dan meridhai kita untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kepada kita yang batil sebagai suatu kebatilan dan mengaruniai kita  untuk menjauhinya, sesungguhnya Ia maha kuasa atas segala hal dan menjawab atas segala permintaan. Dan demikianlah apa yang bisa kami berikan dalam masalah ini, semoga kita dapat mengambil faidah didalamnya, dan Wajah Allah lah yang menjadi harapan kita dalam beramal.
(Sumber: Aadaabul hiwaar, oleh Aidh al Qorni).