Dialog (hiwaar) adalah sebuah ungkapan yang nyaman dan menyejukkan. Ia menunjukkan sebuah upaya untuk mencari kesepahaman, kesepakatan, dan kesetaraan. Allah swt. Menyinggung masalah dialog ini dalam firman-Nya:
“ Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”(QS. Al Kahfi: 37).
Dizaman sekarang, dimana kita hidup, ketermpilan untuk untuk berdialog menjadi sangat penting untuk dapat saling memahami, bertukar pikiran, dan berpendapat dalam rangka mencari sebuah kebenaran. Tujuan utama dari dialog adalah menyampaikan kebenaran melalui sebuah pendekatan personal yang lebih lembut dan lebih bijaksana. Apalagi telah lumrah ditengah manusia, bahwa keselisih pahaman atau perbedaan pendapat adalah suatu yang lazim, Allah swt. Berfirman:
“ Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”.(QS. Huud: 118-119).
Sebagian mufassir berpendapat, bahwa kalimat”dan untuk itulah” diatas tidak menunjukkan arti sebab musabbab”Allah tidak menciptakan manusia karna mereka selalu berselisih pendapat”, melainkan bahwa perselisihan itu merupakan bbagian dari proses yang terjadi setelah penciptaan. Dengan demikian, artinya adalah: maka merekapun berselisih. Atas dasar itu, kita harus mengetahui bahwa perbedaan pendapat memang sesuatu yang tidak bisa dihindari ditengah-tengah ummat ini. Sedang perbedaan pendapat itu ada dua bentuk, yakni:
1. Perbedaan pendapat yang mengarah pada keberagaman, yakni dalam islam disebut perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah(cabang).
2. Perbedaan pendapat yang menggarah pada pertentangan dan permusuhan, dan ini adalah suatu hal yang dibenci dan mereka inilah, umumnya yang menentang pokok-pokok agama yang sudah qathi. Allah swt. Berfiman:
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”,(QS. Ali Imran: 105).
Jadi perlu dicatat, bahwa kebenaran islam itu sudah jelas dan nyata, ia laksanakan matahari dan tidak dapat diperselisihlkan lagi. Dan barangsiapa yang memperselisihkannya, berarti ia adalah orang yang dungu lagi bodoh. Maka jangan engkau sia-siakan waktumu hanya untuk berdialog dengannya!!! Selain itu, hanya berdialoglah tentang permasalahan-permasalahan yang bermutu dan bermanfaat saja!!!
Dari ini semua, sangat menjadi suatu yang sangat penting untuk menjadi seorang yang memiliki kemampuan berdialog yang lebih baik, agar kita tidak dibenturkan oleh masalah yang sebenarnya dapat kitta selesaikan cukup dengan dialog ringan. Selain itu ada beberapa etika-etika yang mesti kita perhatikan dan strategi dalam melakukan sebuah dialog, yakni:
1. Ikhlas
Hendaknya kedua belah pihak melepaskan terlebih dahulu sifat fanatisme mereka masing-masing, dikarnakan orang yang terlalu fanatic terhadap kelompoknya, atau pendapatnya, maka ia tidak akan menerima pendapat orang lain. Selain itu dlam dialog mestinya kita hanyalah bertujuan untuk mencari kebenaran, dan inilah keikhlasan yang kita inginkan dalam suatu dialog. Imam asy-syafi’i pernah berkata:”aku tidak pernah membantah pendapat orang lain kecuuali karna aku ingin agar Allah memperlihatkan alas an yang benar dari mulutnya”.
2. Mengetengahkan Dalil Yang Kuat
Harus diperhatikan pula,bahwa kuatnya sebuah dalil dan argumentasi bukan ditandai dengan suara yang meninggi dan sikap yang kasar, karna bagaimanapun manusia bukanlah kerbau, dia memiliki kehormatan dan fitrah yang siap menerima kebenaran. Dengan dalil yang jelas, seseorang dapat mempertahankan dan memperkuat pendapatnya. Dalam hal ini, dalil dapat dikategorikan menjadi dua macam: dalil aqli(logika) yang kuat dan dalil naqli(Al Qur”an dan Hadits) yang benar. Dalam mengetengahkan dalil inipun, seorang pendialog harus bisa menunjukkan letak keabsahan dalil yang digunakan.
3. Hidari Kontradiksi
Dikala kita berdialog, berusahalah janganlah sampai melontarkan ucapan-ucapan yang mengandung kontradiksi(yang saling bertentangan). Karna, ada sebagian manusia yang karna keterbatasan wawasannya atau karna dorongan nafsunya, sering melontarkan beberapa ucapan atau logika yang sengaja menimbulkan hal-hal agar terjadi perselisihan diantara manusia, tapi sebaliknya hal yang pertama yang harus kita cari adalah bagaimana kita membicarakan hal-hal yang mengandung persamaan diantara kita dengan teman dialog kita. Contoh orang yang demikian telah Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".(QS. Al Qomar:2).
4. Dugaan Bukanlah Dalil
Sering kita temui orang-orang yang acapkali menjadikan dugaannya sebagai argument atau dalil. Padahal ini tidaklah dapat diterima, dikarnakan suatu dugaan masih menjadi suatu hal yang masih memerlukan pembuktian, yang masih belum tentu kebenarannya. Ironisnya, kadang pradugaan mereka, mereka anggap adalah suatu argument yang kuat, sementara praduga orang lain tidaklah demikian. Mereka menjadikan aturan hanya untuk orang lain. Tapi syarat suatu yang baru bisa disebut dalil adalah kebenaran, dan hal-hal yang tidak bertentangan dengan otak yang jernih lagi diberi hidayah. Allahu a’lam.
5. Teman Dialog Yang Sebanding
Jangan sekali-kali berdialog dengan orang yang bodoh, bebal, dan keras kepala. Karna dampak negative yang ditimbulakn akan lebih besar dibanding manfaatnya, baik itu bagi diri sendiri, dirinya, dan bagi kaum muslimin secara umum. Tapi mereka yang pantas untuk diajak untuk berdialog adalah mereka yang berilmu, memiliki kesucian hati, dan berniat mencari kebenaran. Ketahuilah, mendatangi orang yang bodoh dan mengajaknaya untuk berdialog, maka itu sama halnya dengan merendahkan harga diri dan kehormatan anda sendiri dihadapannya.
6. Mengakui Dan Menerima Hasil-Hasil Dialog
Dalam sesi dialog, bila telah tercapai hasil dan kesepakatan dalam beberapa hal, hendaknya masing-masing pihak yang terlibat dalam dialog harus menerima kesepakatan tersebut dengan ikhlas dan lapang dada. Dengan kata lain, bagi yang pendapatnya kurang kuat harus lapang dada dalam menerima kuatnya pendapat dan dalil lawannya. Dan ini merupakan salah satu cari mencari kebenaran. Atas dasar itu hendaknya masing-masing pihak harus bisa berkata:”bila aku yang benar dan angkau melihat kebenaran itu, maka engkau harus mengikutinya!!! Sebaliknya, bila engkau yang benar dan aku melihat kebenaran itu, maka aku akan mengikutimu .
7. Berdialog Dengan Ramah Dan Ramah
Ini adalah salah satu etika dari berdialog yang mesti kita ketahui dan selalu senantiasa kita pelihara. Dalam kitabnya ihyaa ulumuddin, imam Al Ghazali mengingatkan:”kalian hanya mengajaknya berdialog, maka jangan sekali-kali menyinggung masalah pribadinya, nasabnya , kedudukannya, ataupun akhlaknya. Tetaplah berada dalam kerangka masalah yang diperdebatkan”. Pada sisi lain, anda juga harus mengabaikan semua ucapan lawan dialognya yang tak ada sangkut pautnya dengan pokok pembicaraan dan yang lebih baik, lakukanlah dialog dengan cara-cara yang baik, santun, dan penuh keramahan serta kelembutan. Allah swt. Berfirman:
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. An Nahl: 125).
8. Berbagi Waktu Bicara Dengan Adil
Ada baiknya , sebelum dialog dimulai kita mengadakan kesepakatan dengan teman dialog tentang masalah waktu bicara. Hal ini perlu dilakukan, karna ada sebagian orang yang berlaku dzolim dan curang, terus berbicara dan tidak memberikan pada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya dan ketika teman dialognya berbicara, ia menyanggah dan menyela. Dalam dialog, islam telah mengajarkan bahwa kita harus mendengarkan pendapat teman dialog sebagaimana ia mendengarkan pendapat kita. Adab seperti inilah yang telah dipraktekkan oleh ulama’ islam yang terdahulu.
9. Mendengar Dan Menyimak Pendapat Teman Dialog
Bila anda berharap teman dialog kita menyimak dan mendengar pendapat kita dengan baik, maka kita pun harus berlaku demikian pula terhadapnya. Ini adalah termasuk akhlak yang mulia dan teman dialog pun akan merasa dipehitungkan dan dihargai. Sebaliknya, saat berdialog hendaknya seorang menghindari yang dinamakan bercanda, celetukan, dan lelucon yang tak berguna. Sebab hal itu terkadang dianggap sebagai penghinaan terhadap teman dialog dan menimbulkan kesan bahwa kita tidak serius untuk sampai pada kebenaran. Maka tetaplah berdialog dengan hati yang jernih, pandangan mata yang teduh, agar ia tahu bahwa kita menghormatinya dan kita senantiasa berdialog dalam rangka mencari kebenaran.
10. Menentukan Tempat Yang Layak Untuk Berdialog
Ada baiknya, jika dialog itu diadakan dalam sebuah pertemuan terbatas yang dihadiri oleh sejumlah ulama’ dan pakar dalam hal yang menjadi materi dialog. Sebauh kondisi yang menimbulkan ketenangan dan kenyamanan bagi para peserta dialog, sehingga perasaan menjadi tenang, dan dengan ketenangan itu diharapkan memudahkan seseorang untuk berfikir lebih baik dan benar serta tidak merasakan tekanan didalamnya. Bukan ditempat umum dan dihadiri banyak orang. Sebab kondisi ini sangat memungkinkan timbulnya kerusuhan yang berujung pada kerusuhan. Tentunya ini adalah hal yang tidak terpuji.
Demikianlah beberapa etika-etika yang mesti kita perhatikan dalam berdialog demi tercapainya suatu yang kita inginkan dan meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan. Sebenarnya, dengan dialog, kita bisa mengarahkan orang kepada hidayah Allah. Sabab tujuan dari dialog kita ada;ah agar orang-orang mendapay hidayah dari Allah dan kembali pada jalan Tuhannya. Sekali lagi, dialog merupakan salah satu cara yang diridhai oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran. Aallah swt, Berfirman:
“ Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".(QS Ali Imran: 64).
Kami memohon kepada Allah agar memperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai suatu yang benar, dan meridhai kita untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kepada kita yang batil sebagai suatu kebatilan dan mengaruniai kita untuk menjauhinya, sesungguhnya Ia maha kuasa atas segala hal dan menjawab atas segala permintaan. Dan demikianlah apa yang bisa kami berikan dalam masalah ini, semoga kita dapat mengambil faidah didalamnya, dan Wajah Allah lah yang menjadi harapan kita dalam beramal.
(Sumber: Aadaabul hiwaar, oleh ‘Aidh al Qorni).
